Kenapa Bayi Langsung Jalan Tanpa Merangkak ?


Anak Bayi Langsung Jalan Tanpa MerangkakBayi yang mengalami fase tengkurap dan ketika memasuki usia 6 bulan, biasanya akan mengalami fase merangkak. Akan tetapi, tidak semua bayi memiliki kemampuan yang sama. Bisa jadi bayi dapat merangkak lebih cepat, dan bisa jadi mengalami keterlambatan.

Bagaimana, jika seorang bayi tidak menjalani proses tersebut; berjalan tanpa menjalani proses merangkak ?

Merangkak adalah suatu fase perkembangan bayi sebelum berjalan, yaitu fase antara duduk dan berdiri. Dalam fase merangkak ini, bayi mempersiapkan diri untuk menjalani fase berikutnya, yaitu berjalan. Bayi belajar bagaimana memperkuat otot-otot tangan dan kakinya untuk membantu mengangkat tubuh dan berpindah tempat. Dengan merangkak, bayi akan belajar cara menyeimbangkan antara tangan, lutut dan kakinya. Bayi juga berusaha mengenal lingkungan sekitarnya dengan caranya sendiri.

Cara merangkak bayi pun berbeda-beda. Ada yang merangkak dengan kaki dan tangannya, ada yang seperti mengesot atau merangkak bergeser dengan menggunakan pantat dan kaki, ada pula yang merangkak bergeser dengan menggunakan perutnya. Umumnya, bayi merangkak dengan menggunakan lutut dan tangannya.

Hingga saat ini belum ada data yang menunjukkan efek negatif terhadap bayi yang berjalan tanpa melalui fase merangkak. Banyak anak yang tidak mengalami hambatan apa pun dalam fase perkembangannya walaupun tidak merangkak.
 
Sejumlah sumber menyebutkan fase merangkak tidak perlu harus ada pada setiap bayi karena bukanlah patokan penting dalam tahap perkembangannya. Berbeda halnya dengan fase duduk, berdiri, atau berjalan yang memang harus ada. Bayi yang langsung berdiri tanpa melalui fase merangkak tidak berkaitan dengan kecerdasannya. Itu juga bukan berarti bayi yang melalui fase merangkak memiliki koordinasi lebih bagus karena koordinasi tangan dan kaki bisa juga dalam bentuk bermain-main dengan tangan dan kakinya.


Orang tua tak perlu terlalu cemas jika anak tidak mengalami fase merangkak. Hal sebenarnya yang perlu diketahui oleh para orang tua adalah yang terpenting anak masih berusaha untuk bergerak, tidak peduli dengan cara apa yang dilakukan anak. Apabila ada kekhawatiran terhadap perkembangan fisik lainnya, selain merangkak, sebaiknya segera diskusikan dengan dokter anak.

Yang lebih penting lagi adalah sudahkah anak diberi stimulasi (rangsangan) yang cukup untuk belajar merangkak? Karena kemungkinan anak tidak merangkak karena kurangnya stimulus (rangsangan), seperti anak yang sering dibaringkan telentang akan terlambat merangkak atau bahkan mungkin tidak merangkak, karena kebiasaan ia berbaring terlentang dapat menghambat kemampuannya merangkak. Anak yang terlalu sering digendong pun akan malas untuk berusaha bergerak dengan kemampuannya. Oleh karena itu, bagi para orangtua, sebaiknya berilah waktu yang cukup pada bayi Anda untuk berbaring telungkup agar dapat merangsang anak untuk mencoba bergerak dengan posisi perut di bawah.

Berikut ini, ada beberapa stimulasi (rangsangan) yang dapat dilakukan oleh orang agar bayi mau belajar merangkak. Akan tetapi, sebelumnya, perlu diperhatikan bahwa stimulasi (rangsangan) ini diberikan bila bayi sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda akan merangkak. Jadi, tidak boleh dipaksakan apabila bayi belum menunjukkan tanda-tanda akan merangkak.

Dibawah ini adalah cara stimulasi agar bayi dapat merangkak:
  • Pertama-tama pastikan bahwa bayi sudah mampu tengkurap (membolak-balikan badan dan tegak tubuhnya)
  • Untuk memudahkan gerakan anggota badan dan sendi, biarkan kaki, lutut, dan siku dalam keadaan telanjang untuk memudahkannya bergerak.
  • Bila bayi sudah mulai memperlihatkan gerakan merangkak dengan perut, cobalah dengan menggantung mainan kesukaannya di luar jangkauan agar anak yang sedang dalam posisi tengkurap itu berusaha begerak maju untuk meraih mainannya tersebut. Berikan dorongan sedikit dan secara halus pada bagian bokongnya untuk merangsangnya supaya maju.
merangsang atau stimulasi agar bayi dapat merangkak


Mainan kesukaan anak bisa juga diganti dengan sesuatu benda yang sangat menarik perhatiannya. Biasanya benda-benda (mainan) baru akan menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan yang lebih besar dalam diri bayi. Karena rasa penasarannya itulah maka bayi akan berusaha untuk meraih dan memegang benda yang baru diliatnya itu. Saat bayi sudah mulai berusaha bergerak maju ke depan, coba perlahan-lahan mundurkan benda atau mainan yang ingin diraihnya tersebut. Dengan cara seperti ini, anak tidak sadar bahwa perlahan-lahan ia sudah belajar untuk merangkak.

Pada saat anak sudah mulai menunjukkan tanda akan merangkak, biarkan dia mengeksplorasi sekitarnya. Pada masa ini kita harus waspada agar bayi jangan sampai terjatuh karena gerakannya sudah mulai banyak.

Orang tua juga harus lebih hati-hati lagi dalam menjaga bayi yang sudah dapat merangkak. Saat ia sudah bisa bergerak merangkak kesana kemari, maka segala hal yang ditemuinya akan dipegang. Bukan tidak mungkin benda-benda kecil yang ditemuinya saat bereksplorasi di lantai bisa jadi berukuran kecil atau tajam. Benda-benda seperti itu tentunya berbahaya karena beresiko bisa tertelan dan melukai anak. [*]